Keputusan Lokasi Pembangunan Pelabuhan Blok Masela

Babak baru pengembangan gas alam Blok Masela dimulai. Pengembangan blok ini rumit dan berliku sejak cadangan ditemukan tahun 1998 dan direncanakan baru berproduksi pada 2026.

Pemerintah Provinsi Maluku secara resmi menyerahkan Surat Keputusan Gubernur Maluku Nomor 96 Tahun 2020 tentang Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Pelabuhan Kilang Gas Alam Cair Lapangan Abadi yang dikelola Inpex dan Shell. Surat itu diterima Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas pada Senin (1/6/2020).

Keputusan itu menjadi langkah maju pengelolaan gas di Lapangan Abadi, Blok Masela, yang merupakan lapangan dengan cadangan gas terbesar di Indonesia. ”Setelah terbit surat keterangan ini, tahapan berikutnya adalah tahap pelaksanaan yang diselenggarakan Badan Pertanahan Nasional berdasar surat permohonan dari SKK Migas. Kami sangat berharap dukungan pemerintah daerah agar proyek ini berjalan lancar,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam siaran pers.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Hiroshige Seko, serta CEO sekaligus Presiden Direktur Inpex Corporation Takayuki Ueda menyaksikan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto dan Presiden Direktur Inpex Indonesia Shunichiro Sugaya menandatangani dokumen head of agreement mengenai pengembangan lapangan hulu migas Abadi di Blok Masela, Maluku. Penandatanganan berlangsung di Jepang, Minggu (16/6/2019).

Pemerintah Provinsi Maluku sudah menetapkan lokasi pembangunan pelabuhan untuk kilang gas alam cair (LNG) Blok Masela. Lahan seluas 27 hektar tersebut diputuskan ada di Desa Lematang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, tepatnya di Pulau Nustual. Belum ada kabar mengenai lokasi detail untuk pembangunan kilang LNG.

Presiden Direktur Indonesia Inpex Masela Ltd Akihiro Watanabe mengatakan, penerbitan surat keputusan tersebut merupakan titik penting dalam tahapan pengembangan Blok Masela. Ia mengapresiasi dukungan sejumlah pihak, terutama pemerintah daerah, dalam proyek tersebut.

Cadangan gas bumi Blok Masela yang ditemukan sejak 1998 baru diputuskan model pengolahan gasnya oleh pemerintah pada Maret 2016. Pengolahan gas yang awalnya direncanakan di laut lepas diputuskan dipindah ke darat dengan membangun kilang LNG. Rencana pengembangan (plan of development) gas disetujui pemerintah pada Juli 2019. Blok tersebut direncanakan memproduksi LNG sebanyak 9,5 juta ton per tahun dan gas pipa 150 juta standar kaki kubik per hari.

peta blok masela

Mengutip data SKK Migas, produksi gas bumi Indonesia pada 2019 sebesar 6.140 miliar british thermal unit (BBTU). Penyaluran dalam bentuk LNG mencapai 2.025 BBTU dengan alokasi untuk domestik sebesar 508 BBTU dan ekspor sebesar 1.417 BBTU.

”Penyelesaian proyek hulu gas di Indonesia, yaitu Blok Masela dan Blok Tangguh Unit III, akan kian memperkuat pasokan LNG ke pasar ekspor utama, yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand. Di masa mendatang, Indonesia akan menjadi pemain penting dalam hal pasokan LNG dunia,” kata Dwi.

Sumber : Kompas.id 1 Juni 2020 OlehARIS PRASETYO

Share it
HMS FAKFAK

HMS FAKFAK

Your Comment