Papua Bukan Tanah Kosong, Pastor Frans Leishout OFM

saya siap pergi bertemu-Nya, semua tugas di sini telah selesai. Cuma berpisah Itu Berat. Apalagi berpisah dengan Papua.” P. Frans Lieshout OFM, 11 April 2020.

Sumber Tulisan : Markus Haluk

  1. Lahir dan Studi

Pastor Frans Lieshout OFM (Ordo Fratrum Minorum), lahir di Montfoort, Nederland (Belanda) pada 15 Januari 1935. Pastor Frans adalah anak ke-7 dari 11 bersaudara. Keluarga Pastor Frans termasuk keluarga besar.

Masa kecil hingga remaja dihabiskannya di kampung halaman sembari mengenyam pendidikan.

Ayah dari Pastor, orang yang dihormati dan disegani di kota Montfoort. Ia mempunyai jasa besar dengan menginisiasi dan membuka Sekolah Menengah Pertanian bagi anak-anak di Kota Montfoort. Sekolah itu masih berjalan, siswanya pun berasal dari berbagai kota dan negara. Dalam sejumlah kesempatan, Sekolah tersebut turut membantu beasiswa bagi anak-anak Balim yang sedang Studi di Jayapura.

Pada masa kecil Pastor bersama keluarganya mengalami secara langsung dampak perang dunia ke-2 yang pecah pada 1940-1945. Jerman menduduki Belanda, Belgia dan beberapa negara di wilayah Eropa.

Situasi ekonomi Belanda dan Uni Eropa waktu itu mengalami krisis. Banyak orang menjadi korban perang.

Pastor Frans Leishout OFM
Pastor Frans Leishout OFM – twitter@jayapuraupdate

Hampir seluruh wilayah Montfoort dibom oleh pasukan Angkatan Udara Kanada ke-2 (RCAF), Angkatan Udara ke-2 Taktis-No.183 Grup–143, saat itu masuk dalam pasukan Sekutu yang dipimpin AS untuk mengusir pasukan Jerman. Selama pemboman terbesar pada 20 Januari 1945, sebanyak 186 orang tewas.

Akibat situasi pendudukan Jerman, Ratu Belanda, Yuliana diungsikan ke Inggris. Situasi di Belanda dan Eropa mulai redah setelah AS membantu membebaskan negara-negara Eropa dengan menaklukan Jerman;

“Waktu itu, kami alami kelaparan. Musim dingin menyelimuti Eropa. Kami keluarga mengalami situasi sulit. Syukur waktu itu Amerika Serikat membantu kami. Mereka dengan pesawat menjatuhkan makanan dari atas udara. Kami coba mengumpulkan bantuan makanan yang jatuh di tanah.”

Ditengah situasi tadi, pastor tetap mengikuti pendidikan ditingkat sekolah dasar dan menengah. Setelah tamat Sekolah Menengah/Gynasium, pada 1955 dalam usia 20 tahun Pastor masuk anggota Persaudaraan Fransiskan (OFM) (64 tahun hidup sebagai biarawan dalam ordo OFM). Studi Filsafat dan Teologi 1956-1962. Pada 1962 ia ditahbiskan sebagai imam.

Tiga orang Imam OFM, yang menjadi Misionaris berasal dari Kota Montfoort, masing-masing; Uskup Herman Munninghoof OFM, P. Frans Lieshout OFM dan P. Theo Vergeer OFM. Mereka bertiga ditugaskan di Papua. Populasi penduduk kota Montfoort pada 2019 adalah 3.076 orang.

  1. Pastor Frans Tiba di Nederlands New Guinea dan Pengabdiannya

Pastor Frans tiba untuk pertama kakinya di Nederlands New Gunia atau yang sekarang disebut West Papua pada 18 April 1963 (dua minggu sebelum Pemerintah Indonesia mengambil alih dan hadir di Tanah Papua. Sejak kedatangannya sebagai misionaris Fransiskan dari ordo OFM ia telah melayani umat di Papua selama 56 tahun, dan hampir separuhnya tinggal dan mengabdi di Wamena, yaitu selama 25 tahun 9 bulan. Kecintaanya pada Papua, ia pun memutuskan menjadi warga negara Indonesia (WNI) pada 1986

Pastor Frans Leishout OFM
Pastor Frans Leishout OFM – twitter@jayapuraupdate

Kami ringkaskan masa pengabdian Pastor Frans di tanah Papua dari waktu ke waktu selama 56 tahun.

  1. April-Juli (3 bulan), 1963, Masa Penyesuaian di Waris, Kabupaten Keerom.
  2. Agustus 1963-April 1964 (9 bulan), Sekretaris II: Keuskupan Jayapura.
  3. Pada April 1964-Mei 1967 (3 tahun), Pastor Paroki di Musatfak Balim.
  4. Mei 1967-Juli 1973 (6 Tahun), Pastor Paroki di Bilogay Suku Moni Intan Jaya.
  5. Juli 1973-Agustus 1983 (10 Tahun), Rektor SPG Teruna Bakti Waena Kota Jayapura.
  6. Agustus 1983-Oktober 1985 (3 tahun), Pastor Koordinator 3 Paroki Kota (Katedral, APO dan Argapura).
  7. Oktober 1985-Agustus 1996 (11 tahun), Pastor Dekan Dekenat Jayawijaya di Balim.
  8. Agustus 1996-Agustus 2002 (6 tahun), Pastor Paroki Katedral Jayapura sekaligus merangkap: a). Pastor Dekan Dekenat Jayapura, b). Dosen Liturgi STFT “Fajar Timur” Abepura Jayapura.
  9. Agustus 2002-Januari 2007 (5 tahun), Pastor Paroki Biak.
  10. Januari 2007-Oktober 2019 (12 tahun 10 bulan), Pensiun “Pulang Kampung” dan Menulis Buku, Bantu Tenaga Pastoral di Balim.
  11. Pada 17 Oktober 2019, meninggalkan Lembah Agung Balim karena faktor kesehatan.
    28 Oktober 2019, Meninggalkan Tanah Papua (Nedherlands New Guinea) dan Kembali ke Nedherlands.
  12. Pada 01 Mei 2020, pukul 13.15 Waktu Amterdam, Belanda Pastor Frans Menghembuskan Napas terakhir dan kembali kerumah Bapa di Surga.
  13. Kesaksian para Tokoh Umat Tentang Karya Pastor

Selama 56 tahun bertugas di tanah Papua, pastor Frans menjadi Guru, Gembala, Dokter, Antropolog, Budayawan, Bapa, Tete rohani dan Pastor bagi ribuan orang. Setiap orang disambutnya pelukan hangat dengan hati damai.

Pastor Frans Leishout OFM
Pastor Frans Leishout OFM – twitter@jayapuraupdate

Banyak orang Papua khususnya dari pedalaman berhasil atas jasa Pastor Frans.
“Waktu itu mama saya tidak bisa melahirkan saya, nyawa saya atau mama saya menjadi taruhannya. Namun tete Pastor membantu bersalin, syukur saya dilahirkan dengan selamat. Ketika saya datang Sekolah di SPG Taruna Bakti, bertemu lagi dengan Bapa Pastor yang melahirkan.” Demikian kesaksian Ibu Fransiska Abugau, salah satu tokoh perempuan Migani, yang saat ini sebagai anggota MRP (Majelis Rakyat Papua).

Bapak John Mirip, tokoh terdidik pertama dari suku Dauga berkisah,

“saya dengan teman-teman, diaungkut dengan pesawat Pilatus. Kami semua ada 10 anak, jumlah ini sangat melebihi. Pastor Frans antar kami dari Bilogai ke Kokonau. Saat Pilot menyampaikan laporan kepada petugas menara bandara bahwa ia sedang membawa 11 orang (termasuk Pastor Frans), petugas bandara menjawab apakah Anda membawa mereka dengan pesawat Twin Other? Jumlah itu sangat melebihi dan tidak diijinkan tetapi itu yang dilakukan oleh Pastor Frans untuk selamatkan masa depan kami generasi muda Papua.”

“Saya selesai tamat SPG Taruna Bakti, bertemu dan meminta berkat kepada Pastor. Sebab saat itu ia menjadi rektor dan saya anggap sebagai orang tua. Waktu itu saya menyampaikan Bapa Saya menjadi guru dan gembala bagi tanah air papua dari rimba raya.” Umeki Kelly Kwalik, Nov 2008.

“Saat kami datang dari Jakarta ke Irian Jaya (Papua), banyak hal kami pikir dan khawatirkan. Calon Istri saya datang dari belakang juga. Syukur kami bertemu Pastor, kami diteguhkan, Bapa Pastor menikahkan kami di Gereja Katedral dok 5 Jayapura.” Rudolf Deca, 1999.

Pastor Frans Leishout OFM
Pastor Frans Leishout OFM

“Orang tua meninggal dunia saat masih SMP YPPK St. Thomas di Wamena. Bapa saya seorang kepala suku besar di Kampung kami. Ia mendirikan Gereja Katolik di Samenage, pada April 1991, Pastor Frans hadir meresmikan dan telah membatis ratusan umat. Saat orang tua meninggal, waktu itu Bapa Pastor sampaikan, Elpius Bapa sudah berpulang tapi Bapa Frans masih hidup. Saya Bapamu.” Elpius Hugy, Salah satu Tokoh Muda Katolik Balim. Jakarta, Maret 2020.

Banyak orang telah dibesarkan dan dibantu oleh Pastor Frans. Apabila ditulis semua kesaksian mereka, kertas HVS beberapa rim juga belum cukup. Karena itu kami hanya angkat beberapa kesaksian di atas mewakili yang lainnya.

Besarnya perhatian dan kesih sayang pastor Frans sangat terlihat dalam banyak kegiatan. Salah satunya ialah partisipasi umat dalam acara perpisahan dengan umat di Kapela Yesus Pilamo Angkasa Kota Jayapura pada 26 October 2019.

Selain itu terbaca juga kesaksian dan ungkapan Duka yang terus mengalir sejak tadi malam hingga saat ini dan beberapa waktu ke depan. Mereka dengan perasaan haru mengungkapkan semua kisah mereka bersama Pastor Frans di Papua.

  1. Terpaksa Pastor Frans Kembali ke Nederland

“Saya tidak harapkan ini terjadi begitu cepat, tetapi terpaksa karena pertimbangan kesehatan saya mesti pergi ke Nederland supaya bisa melakukan pengobatan disana.” Pesan ini disampaikan sebelum berangkat ke Negeri Belanda.

Sesampai tiba tiba Pastor, mengirimkan pesan;

“Ini menjadi Noltalgia. Saya dijemput oleh para adik dan kakak dan juga dari OFM. Saya sangat terharu, walaupun cuaca dingin dan hujan. Sekarang saya kurang lebih 15.000 KM jauh dari Papua tetapi terasa tetap dekat dan bagian dari hidupku.”

Selama dua minggu, Pastor Frans tinggal dengan keluarganya kemudian mulai 14 November 2019 pindah di Biara OFM di Amsterdam.

Sambil isterahat dan melakukan pengobatan, Pastor juga telah berbicara dan memberikan kesaksian selama 56 tahun pengabdiannya kepada Media masa. Wawancara Pastor Frans setelah tiba di Belanda pertama kali dimuat dimedia nasional Belanda “Trouw” pada 27 November 2019, kemudian wawancara kedua dirilis oleh Media “ de, Volkskrant’ pada 5 Desember 2019 dan wawancara ketiga pada Februari 2020.

  1. Komunikasi Selama Perawatan Hingga Meninggal Dunia

Mulai awal tahun 2020, kesehatan Pastor Frans semakin menurun.

Pada 3 Januari Pastor masuk rumah sakit dan dioperasi. “Saya kunjungi adik perempuan yang bungsu Mariette, dan tiba-tiba tidak sadarkan diri, lama sekali.”

Setelah keluar rumah sakit, pastor Frans menyampaikan ucapan terima kasih untuk semua umat yang mendoaknnya.

“ Operasi sudah berhasil dan saya sudah keluar rumah sakit sebelum hari ulang tahun saya ke 85 pada tanggal 15 Januari 2020. Terima kasih kepada Pendeta Socratez Sofyan Yoman dan Pastor Yance Yanuarius Dou. Saya terharu masih ada tempat di hati orang Papua.”

Pada 28 Januari, Pastor Frans mengirim kabar bahwa kankernya cukup aktif tetapi dokter menyampaikan bahwa “ hidupmu bisa diperpanjang lagi dengan obat yang baru, seharga 500 Euro perbulan (7.5 juta).”

Pada 14 Februari, Pastor Frans menyampaikan Ucapan Selamat Valintine untuk Papua.

“Selamat Valintine Day. Semoga bangsa Papua menerima Berkat dari Umat Manusia di Dunia ini.”

Pada 18 Februari Pator Frans menyampaikan bahwa ternyata obat yang baru tidak membantu memperpanjang hidup. “

Jelaslah bahwa saya harus realistis dan harus bersiap-siap menyambut Tuhan yang datang memanggil saya. Tuhan telah memberikan banyak kepada saya, sekarang Ia datang mengambil kembali semua itu. Nabut, Terima Kasih atas segala kebaikan dan perjuanganmu. Semoga saya menerima kekuatan iman untuk menghadapi fase akhir hidupku.”

Mendengar kabar demikian, saya Pak Elpius Hugy dan pak Laurens Wantik mewakili keluarga besar Balim telah memutuskan ke Belanda untuk menjenguknya. Berdasarkan beberpa pertimbangan kami putuskan yang berngkat hanya dua orang, Markus Haluk dan Pak Elpius Hugy. Pada 23 Februari kami dapat Undangan untuk mengunjungi Pastor di Belanda.

Pada 17 Maret 2020, Saya dengan Pak Elipus sudah dapat Visa Belanda. Kami sudah siapkan semua hal termasuk tiket. Namun karena dampak COVID 19, dengan terpaksa kami menunda keberangkatan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Kerinduan untuk bertemu batal. Pastor Frans menyampaikan kekesalan yang mendalam. Ia juga menyampaikan situasi COVID 19 di Negeri Belanda.

“ Nabut. Kota Amterdam sudah menjadi kota hantu. Sekolah-sekolah, Gereja-gereja, Restoran-Restoran dan semua tempat publik di tutup. Hanya sedikit orang berada di Jalan, tidak saling menyapa satu dengan yang lain. Hanya beberapa orang menghadiri acara pemakaman orang mati.

Sedih, dua tamu istimewa dan kesayangan saya dari Papua tidak jadi datang karena Virus Corona, padahal sudah lama dirundukan kedatangan mereka.

Ya Tuhan rencanaMu kami tidak dapat pahami namu terpujilah NamaMu yang Besar. Terjadilah Menurut KehendakMu. Hinyalawok Naburi, pergilah ke Negeri Emas Papua menjaga anak-istrimu, rakyat dan bangsa Papua. Sampai jumpa dilain kesempatan.”

Pada 11 April 2020, Hari Paskah. Pastor Frans mengirim kabar “ Diputuskan untuk berhenti dengan semua tindakan medis karena tidak ada guna lagi. Jadi saya sudah mulai dengan proses Meninggal Dunia. Mungkin dalam beberpa bulan. Tetapi saya siap bertemu-Nya, semua di dunia selesai. Cuma berpisah Itu Berat. Apalagi berpisah dengan Papua.”

Pada 12 April 2020, Pastor Frans mengirim Pesan, “waa..waaa..waaa..waa.., Selamat Pesta Paskah. Maaf singkat, saya tidak punya kekuatan lagi. HIDUPLAH PAPUA.AMIN!”

Pastor Frans Leishout OFM
Pastor Frans Leishout OFM – twitter@jayapuraupdate

Pada 20 April 2020, Tambah rasa rindu saya. Saya prihatin, jangan sampai virus jagat di rumahmu, di papua. Jaga jarak, jaga diri. Iman akan Tuhan tidak cukup, kita harus hati-hati. Salam sayang, Keadaan saya sudah lebih baik setelah terima darah baru. Tetapi…ya, hat tahu semua.”

Komunikasih dengan Bapa, Tete dan Pastor Frans terakhir dengan saya pada 20 April 2020. Berhubung kesehatannya semakin menurut, nomor saya disambukangkan kepada keluarga pastor.

Pada 28 April 2020, Pak Ton Houweling, mengirimkan pesan kepada saya bahwa “Kondisi Pastor Frans semakin tidak begitu baik. Ia tidak dapat membalas semua pesan WA dari Anda dan orang lain. Diperkirakan Pastor akan meninggal dalam waktu yang tidak lama.”

Pada 1 Mei 2020, pukul 21.09 waktu Papua, Bas (salah satu keponakan pastor Frans) mengirim pesan, “ Markus, Elpius dan semua umat di Papua, yang terkasih. Saya punya berita sedih. Pastor Frans baru meninggal dunia. Dia tertidur tanpa menderita. Dia sekarang berdamai dengan Tuhan. Belasungkawa dengan kehilangan ini. Untuk semua Papua.

Kami berharap Anda semua keluarga diberikan kekuatan dengan kehilangan ini. Kami sayang padamu.”

Pastor menghembuskan Napas Terakhir pada 1 Mei 2020 pukul 13.15 Waktu Amsterdam-Belanda atau pukul 19.15 Waktu Papua.

Engkau telah bekerja dengan baik. Seluruh hidupmu tercerah bagi kami, tanpa memandang entah dari mana asalanya. Tidak ada kata-kata yang dapat kami ungkapkan untuk semua kebaikan, keringat dan pengorbananmu selama 56 tahun bagi umat Tuhan. Dengan segala situasi, bibir bergetar pada akhirnya dengan berat hati kami menyampaikan Selamat Jalan, Selamat beriterahat di rumah Bapa di Surga bersama para kudus. Waaaa…Ninopase.

Share it
HMS FAKFAK

HMS FAKFAK

Your Comment