Eliza Kissya dan Eliza Najib,Para Penjaga yang Setia terhadap Alam

Nama depan mereka berdua kebetulan sama, dan kecintaan mereka terhadap alam juga sama, dengan posisi yang berbeda di masing masing daerahnya, mereka telah banyak berbuat untuk menjaga alam daerahnya

Bapak Eliza Kissya adalah seorang Kepala Desa di Pulau Haruku, beliau saat ini telah berumur 70 tahun. Selain kepala Desa beliau juga adalah kepala Kewang,

Eliza Kissya
Eliza Kissya, Kepala Desa Haruku di Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah yang teguh menjaga kelestarian alam di pulau itu. Foto diambil 1Mei 2019.

Kepala Kewang bertugas untuk menjaga ekosistem laut, darat, udara, dan juga nilai adat di dalam masyarakat. Perairan  di depan Desa Haruku itu kini kaya ikan. Pembom ikan ditangkap. Bagan dilarang beroperasi. Penangkapan ikan  seperti memancing di pesisir, muara, dan sungai pun dilarang selama kurun waktu tertentu. Larangan itu dalam istilah lokal disebut sasi.

Selain kegiatan di atas Bapak Elisia Kissya juga melakukan perlindungan terhadap penyu di pulau haruku dan memiliki penangkaran burung gosong atau Eulipoa wallacei. Banyak burung bertelur di pekarangan rumahnya. Burung ini ditangkar karena sudah termasuk burung yang langka.

Eliza Kissya
Eliza Kissya berdiri di depan papan  bertuliskan ajakan untuk melindungi hewan-hewan yang terancam punah di Pulau Haruku.

ELIZA KISSYA

Lahir: Haruku, Maluku, 12 Maret 1949

Pendidikan: Sekolah Rakyat (tidak tamat)

Penghargaan:

  • Kalpataru 1985
  • Satya Lencana Pembangunan tahun 1999
  • Siwalima Award untuk kategori penjaga lingkungan dari Pemprov Maluku tahun 2018
  • Pegiat sastra di Maluku pada tahun 2017 dari Kantor  Bahasa Provinsi Maluku
  • Maestro seni tradisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017.

Sedangkan ibu Eliza Najib berusia 47 tahun adalah perempuan tangguh dengan tekad luar biasa untuk menghijaukan kembali hutan dan lahan kritis di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Gerakannya berhasil menghijaukan sekitar 300 hektar hutan di sekitar desanya.

Eliza rajin memunguti biji buah-buahan, seperti nangka dan mangga, yang dibuang orang. Biji itu ia semai di kebunnya. Sebagian hasilnya ia kembangkan sendiri, sebagian lagi ia tanam di sela-sela batuan di lahan kering atau perbukitan untuk mencegah longsor dan banjir. Ia juga menanam lamtoro, gamal, dan banten sebagai pagar hidup dan sumber pakan ternak.

Eliza Najib
Eliza Najib menggarap lahan kritis dan kering di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, sejak 2003. Pada 2019, ia memperoleh Kalpataru atas jasanya menggerakkan penghijauan hutan di Sumbawa Barat.

Eliza ingin warga lain mengikuti aktivitasnya menghijaukan lahan kritis atau telantar. Karena itu, ia membagikan bibit tanaman yang ia kembangkan kepada warga secara gratis. Ada juga bibit yang ia bagikan ke instansi pemerintah dan sekolah yang sedang mengadakan penghijauan di lingkungannya.

Apa yang dilakukan Eliza mendapat perhatian Dinas Kehutanan Kabupaten Sumbawa Barat. Dinas kemudian merangkul Eliza untuk program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) tahun 2005. Untuk program itu, Eliza turun langsung guna membimbing masyarakat yang dilibatkan pemerintah menanam 240.000 batang bibit tanaman keras di lahan seluas 200 hektar di hutan Senyiur dan 80.000 batang bibit di hutan seluas 100 hektar di Ai Kangkung.

Program penghijauan lahan seluas 300 hektar itu berhasil. Di kawasan tersebut tidak pernah terjadi lagi longsor dan banjir. Sejumlah mata air pun muncul lagi dan bisa dimanfaatkan warga yang menginap di ladang.

Eliza Najib saat berada di lokasi penanaman bibit pohon. Ia berhasil menggerakkan warga untuk menghijaukan kawasan hutan seluas 300 hektar di Sumbawa Barat, NTB.

Eliza Najib

Lahir: Medan, 24 Juli 1973

Pendidikan:

  • SD Al Wasilah Medan (tamat 1984)
  • SMP Taman Siswa Medan (1990)
  • SMAN 7 Medan (1993)

Penghargaan:

  • Penerima Lencana Wana Lestari 2008 dari Menteri Kehutanan
  • Juara I Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional tahun 2008
  • Kalpataru 2019

Jerih payah Eliza bertahun-tahun untuk menggerakkan penghijauan mendapat apresiasi banyak pihak. Ia mendapat banyak penghargaan. Salah satu yang paling bergengsi adalah penghargaan Kalpataru tahun 2019 untuk kategori perintis lingkungan

Semoga teladan mereka berdua bisa membuat kita juga ikut mencintai dan menjaga alam di sekitar kita.

Sumber : Kompas.id

Share it
HMS FAKFAK

HMS FAKFAK

Your Comment