Kamus Hidup Tanaman Kayu Endemik Papua

Papua mempunyai hutan yang sangat luas. Di dalam hutan ini terdapat berbagai macam tanaman kayu yang tumbuh. Untuk mempelajari dan mengetahui nama serta jenis tanaman kayu yang tumbuh di tanah papua ini, butuh tekad yang kuat . Salah satu orang yang bertekat kuat itu adalalah Krisma Lekitoo.

Di Indonesia, hanya ada segelintir  orang yang menekuni ilmu dasar botani berupa taksonomi tumbuhan, lebih khusus ilmu taksonomi tanaman kayu, salah satunya adalah pak Krisma Lekitoo ini

Krisma Lekitoo, peneliti dendrology atau tanaman kayu pada Balai Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Manokwari, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kamis (13/2/2020) di Manokwari, Papua Barat. ( KOMPAS/ICHWAN SUSANTO )

Krisma Lekitoo Lahir di Wasior (Teluk Wondama, Papua Barat),pada tanggal 31 Juli 1976, beliau menyelesaikan pendidikan SMAnya di SMA 1 Manokwari, kemudian lanjut SI jurusan Fakultas pertanian Universitas Cendrawasih (1993-1998) dan melanjutkan S2 di Unversitas Gajah Mada jurusan Ilmu Kehutanan (2009-2011). Sekarang beliau bertugas sebagai eneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Pengalaman panjang di lapangan membuat Krisma hapal sebagian besar dari sekitar 15.000 spesies tanaman kayu di Papua di mana 1.278 di antaranya  endemik Papua. Selain itu, ia hapal sebagian besar dari 25.000 tanaman kayu di seluruh dunia.

Hapal nama spesies–termasuk nama ilmiah atau nama latinnya–buat Krisma  merupakan talenta yang diberikan Tuhan. Ia mengasah talenta itu dengan belajar keras tentang karakteristik dan keunikan masing-masing tanaman secara detail. Lewat ciri-ciri itu, ia bisa mengenali setiap tanaman dengan baik.

Ketertarikan Krisma pada dunia tanaman terbentuk sejak kecil. Saat itu, ia terbiasa bermain di Hutan Gunung Meja yang saat ini bernama Taman Wisata Alam di Manokwari. Ia akrab dengan hutan dan aneka tetumbuhan di dalamnya.

Ketertarikan itu kian kental ketika ia melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan Unipa (saat itu Fakultas Pertanian Unipa). Di kampus itulah ia mempelajari  ilmu pengetahuan tentang  tanaman berkayu (dendrologi) secara lebih sistematis. Itu adalah ilmu yang tidak banyak diminati orang itu.    “Dendrologi ini langka karena untuk mempelajarinya kita harus tahu teori, mau masuk ke dalam hutan, dan mau praktik,” ujarnya.

Masa perkuliahan ia jalani dengan menyambi masuk-keluar hutan. Ia  mengumpulkan spesimen-spesimen daun dari hutan sebagai bekal  untuk mempelajari tanaman. Krisma biasa masuk-keluar hutan tiga hari. Setelah itu, ia tiga hari mempelajari aneka spesimen yang ia kumpulkan. Pokoknya rumusnya tiga hari-tiga hari.  “Prinsip saya, mati-mati,” katanya  untuk menunjukkan tekadnya  mempelajari tanaman kayu sampai tuntas.

Ketekunan Krisma membuahkan hasil. Ia menjadi mahasiswa dengan prestasi menonjol di kampus.  Namun, pada satu titik ia  merasa usahanya  mempelajari dendrologi sudah mentok.   Ia kesulitan memadukan ciri khas tumbuhan, nama latin, dan kunci identifikasinya.  “Saya merasa butuh orang yang pintar (untuk mengajari saya),” katanya.

Jalan untuk mendalami dendrologi terbuka tahun 2000.  diterima menjadi peneliti pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan pada Kementerian Kehutanan (kini Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi KLHK) dengan tugas di Balai Penelitian Kehutanan di Manokwari. Balai ini mempelajari seluruh aspek kehutanan di  Tanah Papua.

Profesi ini membuat Krisma  bisa mengenal Kade Sidiyasa, peneliti senior yang juga dendrolog andalan Kementerian Kehutanan. Dari “suhunya” itu Krisma menyerap banyak pelajaran termasuk kiat menjadi dendrolog.

“Saya bangga disebutnya sebagai murid (Kade), karena setahu saya tidak ada peneliti lain yang disebutnya murid,” kenang Krisma tentang almarhum gurunya itu.

Penerus

Setelah bertahun-tahun menjadi peneliti tanaman kayu, Krisma gelisah  karena pakar dendrologi di Indonesia sangat terbatas. Ia berharap bisa mencetak kader-kader yang mau menekuni ilmu ini. Saat ini, ada  sembilan orang yang  Krisma didik secara khusus agar bisa menjadi penerusnya.

Meski tergolong ilmu dasar,  pengenalan terhadap tumbuhan  membuat seseorang bisa memahami ekologi dengan tepat dan benar. Jika tidak paham, bisa keliru. Krisma mencontohkan kekeliruan penyebutan pohon  matoa sebagai tanaman endemik Papua pada acara di Hutan Pers Tanaman Spesies Endemik Indonesia  di Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu.

Krisma Lekitoo, peneliti dendrology atau tanaman kayu pada Balai Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Manokwari, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kamis (13/2/2020) di Manokwari, Papua Barat, menunjukkan koleksi buah awetan yang disimpan di herbarium kantornya. Koleksi menjadi penting bagi peneliti untuk memudahkan dalam mempelajari identifikasi lebih lanjut jenis tanaman.13 Februari 2020 (KOMPAS/ICHWAN SUSANTO )

Menurut Krisma, matoa bukan tanaman endemis Papua karena  secara alami tanaman itu juga menyebar di luar Papua, bahkan hingga Thailand. “Hanya saja matoa  tumbuh baik di Papua,” kata dia.

Selain soal pengkategorian, lanjut Krisma, dendrologi juga bermanfaat jika digabungkan dengan ilmu geologi. Keberadaan  tumbuhan tertentu bisa menunjukkan potensi tambang mineral pada suatu lokasi. Karenanya, pemetaan jenis-jenis tumbuhan bisa  sekaligus memetakan potensi tambang di lokasi tersebut.

Saat ini Krisma sedang mempersiapkan bukti ilmiah identifikasi baru temuan sedikitnya tujuh spesies baru tanaman kayu dari pelosok hutan di pedalaman Papua.

Sumber : kompas.id

Share it
HMS FAKFAK

HMS FAKFAK

Your Comment