Cap tikus menjadi bahan baku Hand sanitizer

Di saat masker dan hand sanitizer menjadi bahan yang langka di pasaran, maka muncullah berbagai alternatif hand sanitizer yang dapat diproduksi dengan bahan-bahan alamai yang ada.

Salah satu bahan baku hand sanitizer adalah alkohol. Menurut WHO alkohol dengan kadar 70% dapat menjadi bahan baku pembuatan hand sanitizer, namun alkohol juga saat ini sangat sulit di dapatkan di pasaran.

Milo atau minuman lokal di berbagai daerah di Indonesia mempunyai kadar alkohol yang cukup tinggi seperti ciu d jawa, cap tikus di sulawesi utara, dan sopi di maluku dan papua. Minuman-minuman lokal ini dengan proses kimia yang tepat bisa menjadi bahan baku hand sanitizer yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di saat pandemi covid 19 saat ini.

PROSES PEMBUATAN CAP TIKUS/( https://fiqmansunandar.wordpress.com)

Pada kesempatan ini kami kan berbagi informasi mengenai cara pembuatan hand sanitizer menggunakkan bahan baku minuman cap tikus yang kami sadur dari Kompas.id edisi 28 Maret 2020

Elma Kojongian (22). Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Manado (Unima) di Tondano, Kabupaten Minahasa, melakukan percobaan pembuatan hand sanitizer dengan minuman cap tikus ini di bantu oleh tiga rekannya dan diketuai oleh pengajar Jurusan Kimia Unima, Wilson Rombang

Cap Tikus dibuat oleh para petani pohon aren (Arenga pinnata) secara tradisional. Air nira dari pohon tersebut disuling dengan cara dididihkan. Uap yang dihasilkan lalu disalurkan melalui pipa-pipa bambu ke dalam wadah-wadah untuk dikemas. Cap Tikus tetap ditenggak penikmatnya sekalipun kadar alkoholnya sangat tinggi. Kadar alkoholnya sekitar 45-50%.

Proses yang serupa diulang kembali oleh Wilson serta kelompok mahasiswa yang dibimbingnya, kali ini dengan alat-alat laboratorium. “Melalui proses redistilasi, kami bisa mendapatkan Cap Tikus dengan kadar 88-92 persen. Untuk setiap liter hand sanitizer yang dihasilkan, kami butuh bahan 1,8 liter Cap Tikus dari petani,” kata Wilson.

Pada alat redistilasi, Cap Tikus dididihkan hingga menguap pada suhu 78 derajat Celsius, titik didih alkohol. Uap itu kemudian disalurkan ke dalam pipa-pipa pendingin yang menyebabkannya terkondensasi. Di ujung pipa, titik-titik cairan Cap Tikus dengan alkohol yang kadarnya lebih tinggi ditampung dalam gelas ukur 1 liter.

Tahap selanjutnya, alkohol yang telah dimurnikan itu dicampur dengan gel lidah buaya (Aloe vera)atau gliserol untuk memberikan tekstur yang lebih lembek. “Perbandingannya 2;1, artinya kita butuh 0,5 liter gliserol. Setelah itu kami tambahkan sedikit Hidrogen peroksida,” kata Wilson.

Dari semua proses yang memakan hampir sekitar tiga jam itu, dihasilkanlah hand sanitizer yang ampuh membunuh kuman dan virus. Wilson mengatakan, cairan pembersih tangan berbahan Cap Tikus ini jauh lebih efektif karena kadar alkoholnya di atas anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu sekitar 70 persen.

Kendati telah diberi bahan-bahan campuran, pembersih tangan itu masih sangat cair dan nyaris tak berwarna. Aroma tuak Cap Tikus pun tetap kuat. Dekan FMIPA Unima Anetha Tilaar mengatakan, beberapa pengajar lain telah memberikan saran untuk menambahkan minyak nilam, minyak cengkeh, atau bahkan air rebusan kulit jeruk untuk mengurangi baunya. “Hanya perlu satu tetes saja untuk menghilangkan bau 1 liter Cap Tikus,” kata Anetha.

Pandemi Covid-19 yang menggemparkan komunitas internasional memaksa para cendekiawan memutar otak. Penularan harus dicegah sekalipun alkohol langka di pasar. Untungnya, para ahli dan pelajar kimia di tanah Minahasa tak pernah jauh dari sumber alkohol lokal.

Bahan dasar hand sanitizer ini mereka beli dari petani lokal di Langowan (Selatan). Selanjutnya, mereka berencana membeli dari petani di Raanan Baru, Motoling Barat, Minahasa Selatan. “Penelitian seperti ini tentu tidak hanya membawa manfaat untuk lingkungan kampus, tetapi juga memberdayakan para petani lokal kita,” kata Anetha.

Anetha mengatakan, para mahasiswa dan dosen menggunakan dana sendiri dalam penelitian ini. Satu jeriken berisi 5 liter Cap Tikus dibanderol seharga Rp 50.000. Dana yang dihabiskan untuk membeli peralatan lainnya sekitar Rp 1 juta.

Beberapa mahasiswa meracik cairan pembersih tangan di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Manado (Unima), Tondano, Sulawesi Utara, Kamis (19/3/2020).

Rektor Unima Julyeta PA Runtuwene mengapresiasi kreativitas mahasiswanya. Cap Tikus sebagai produk kearifan lokal ternyata dapat ditingkatkan nilainya menjadi inovasi saintifik. “Yang jelas, kami dapat berkontribusi menyediakan hand sanitizer yang sudah langka saat ini,” kata Julyeta.

ulyeta juga berharap, inovasi yang masih di tahap awal ini tak terhenti. Seandainya bisa memproduksi dalam jumlah lebih besar, lebih banyak petani Cap Tikus bisa meraup untung. Produk cairan pembersih tangan pun dapat diproduksi dalam skala besar sehingga izinnya dapat diurus sebelum dimanfaatkan masyarakat umum.

“Saya sudah menantang teman-teman dari Jurusan Kimia untuk memproduksi dalam skala besar. Tapi, kami belum punya alat yang memadai. Perlu alat redistilasi yang lebih besar lagi,” katanya.

Di saat yang sama, pemprov Sulut juga mencoba memproduksi cairan pembersih tangan dari Cap Tikus. Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw mengatakan, produksi 3.000 liter pada pekan lalu akan terus berlanjut. Produksi itu diprakarsasi Satuan Tugas Covid-19 Sulut.

Julyeta mengatakan, pihaknya pun ingin berkontribusi. Seandainya ada pihak yang bersedia mendanai, ia menjamin produksi dalam skala yang lebih besar dapat terlaksana.

Untuk saat ini, hand sanitizer yang dihasilkan FMIPA Unima pun akan digunakan terbatas di area kampus. Dekan FMIPA Unima Anetha mengatakan, proyek yang memang masih kecil ini untuk sementara dapat dikembangkan menjadi bahan skripsi para mahasiswa.

“Kebetulan yang mengerjakannya adalah mahasiswa semester 8. Seandainya bisa diproduksi dalam skala besar, kami bisa mengerahkan lebih banyak mahasiswa untuk meneliti komposisi yang lebih bagus serta memberdayakan lebih banyak tenaga kerja,” katanya.

Share it
HMS FAKFAK

HMS FAKFAK

Your Comment