Papua, Benteng Ekologi Terakhir Tanah Air

Papua, Benteng Ekologi Terakhir Tanah Air ,ini adalah tajuk diskusiyang diselenggarakan oleh Harian Kompas dan Yayasan Econusa. Diskusi ini merupakan rangkaian kegiatan Ekspedisi Tanah Papua 2020.

Diskusi ini menarik karena ada beberapa fakta yang disampaikan adalah hal yang sangat mempengaruhi ekologi tanah papua di masa depan

Merujuk data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luasan hutan di Provinsi Papua dan Papua Barat pada tahun 2015 sekitar 38,1 juta hektare (ha), merosot dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 42 juta ha. Pada 2011, data Greenpeace menyebutkan, laju  deforestasi di Papua mencapai 143.680 ha per tahun sedangkan di Papua Barat mencapai 293 ribu ha per tahun.

Menurut mantan menteri percepatan pembangunan Indonesia Timur bapak Manuel Kaisepo yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut bahwa yang paling mengkhawatirkan dari eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan adalah dapat mengancam eksistensi masyarakat setempat. Sebab, kehidupan masyarakat asli Papua sangat bergantung dengan alam. Sebagian dari mereka masih menganut ekonomi subsisten yakni cara hidup yang sebatas memenuhi kebutuhan sendiri.

Masyarakat yang tradisional dan subsisten ini, kata Manuel, sudah pasti kalah saat dihadapkan dengan sistem ekonomi pasar yang kompetitif. Mereka yang tidak bisa bersaing dengan pendatang akan tersingkir dan terpinggirkan.

Berikut data komposisi penduduk di Papua dan Papua barat

Kekayaan alam di Papua juga terus mengundang pedagang, pelaku bisnis, dan investor. Kehadiran pelaku bisnis memang dapat mendatangkan lapangan pekerjaan. Namun, di sisi lain, keberadaan industri terutama perkebunan sawit dan pertambangan juga berimplikasi pada alih fungsi lahan dan kerusakan lingkungan. “Mestinya sumber daya alam itu adalah berkah, tetapi yang terjadi malah bencana

Baca juga :

Pompa air ramah lingkungan di distrik Aifat Timur Kab Maybrat Papua Barat

Sementara itu menurut San Safri Awang sebagai Pakar Kehutanan Universitas Gajah Mada  dalam Kajian Pengaman Pembangun Pulau Papua (2017-2019) yang dilakukannya, menunjukkan bahwa dari 16 kabupaten yang mayoritas dihuni masyarakat lokal, sebanyak enam daerah rendah daya dukung lahannya. Kabupaten itu adalah Jayawijaya, Supiori, Deiyai, Tolikara, Lanny Jaya, dan Nduga yang rata-rata berada di kawasan pegunungan tengah.

Awang menjelaskan, daerah dengan daya dukung rendah adalah lahan yang tersedia untuk pangan tidak sebanding dengan jumlah penduduk. Artinya penduduk banyak sementara ketersediaan lahan untuk pangan terbatas.

Menurutnya, hal ini lantaran kontur wilayah itu memang ekstrem dan tak bisa menjadi sumber pangan. Solusinya adalah membuka akses transportasi ke wilayah itu. Namun, keamanan yang tak menentu jadi kendala.

Selain itu, anggota Tim Kajian Papua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Cahyo Pamungkas berpendapat bahwa embangunan infrastruktur berskala besar seperti Jalan Trans-Papua tidak terlalu bermanfaat bagi masyarakat setempat. Pembangunan Trans-Papua justru memunculkan deforestasi dan ketergantungan masyarakat pada barang hasil produksi dari luar daerah.

Pendekatan pembangunan cukup berskala kecil atau dengan perspektif Melanesia. Misalnya, infrastruktur jalan yang dapat menghubungkan masyarakat dari kampung ke pusat distrik atau kabupaten, sehingga mereka bisa mendapat layanan publik dan memasarkan produk lokal miliknya.

“Pembangunan Trans-Papua membantu konektivitas antardaerah dan pergerakan warga serta komoditas.  Namun, jalan ini memfasilitasi narkoba dan minuman keras.  Kesimpulannya, fasilitas ini belum berperan memelihara perdamaian dan keamanan di tanah Papua, ” tutur Cahyo.

Melihat point-point di diskusi ini, maka perlu diperhatikan dan benar -benar dipertimbangkan jika ada proyek skala besar yang akan di lakukan di papua dan papua barat. Harus benar-benar mempertimbangkan kelangsungkan lingkungan hidup di Papua. Seperti yang lagi gencar saat ini adalah kebun kelapa sawit yang sudah banyak menyita hutan sagu dan hutan primer lainnya di tanah papua.

Mari kita jaga kelangsungan ekologi tanah Papua…

Salam,

Share it
HMS FAKFAK

HMS FAKFAK

2 thoughts on “Papua, Benteng Ekologi Terakhir Tanah Air

Your Comment