Nasib Pengungsi Nduga

Sejak penembakan yang terjadi di Nduga pada bulan Desember 2018 lalu, terjadi pengungsian warga sipil Nduga ke beberapa kabupaten di Sekitar Nduga. Sampai saat ini situasi Nduga belum juga kondusif sehingga banyak dari masyarakat sipil ini bertahan di pengungsian. Seminggu lalu ada berita bahwa banyak pengungsi yang meninggal di pengungsian karena penyakit dan kelaparan. Namun jumlah pengungsi yang meninggal menjadi bahan perdebatan.

Peneliti dari Marthinus Academy, Hipolitus Wangge, menyampaikan, selepas operasi TNI-Polri di Nduga, Papua, Desember akhir tahun lalu, banyak warga yang pergi mengungsi, salah satunya ke Wamena. Ia menyebut, berdasarkan pendataan Tim Solidaritas untuk Nduga dan Tim Relawan Kemanusiaan di Wamena hingga Juni 2019, terdapat setidaknya 139 pengungsi yang meninggal dalam pengungsian di Wamena.

Baca selengkapnya di artikel “Konflik Nduga, 139 Orang Dilaporkan Meninggal di Pengungsian”, di tirto,id

Namun data tersebut di atas di bantah oleh kemensos dengan menyebutkan bahwa hanya 53 pengungsi yang meninggal seperti yang di lansir di kompas.com “Kemensos sebut 53 pengungsi Nduga meninggal dunia”

Bantah data Kemensos

https://youtu.be/SYP9zCIbX84Sebelumnya, Kementerian Sosial Republik Indonesia menegaskan sesuai data resmi dari Kementerian Kesehatan yang juga telah divalidasi oleh tim yang terkait langsung dengan Dinas Kesehatan di Kabupaten Nduga, diinformasikan hanya ada 53 orang yang meninggal dan 23 orang di antaranya anak-anak.Hal itu disampaikan Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat saat melakukan rapat koordinasi terkait pengungsi Nduga bersama Dandim 1702/Jayawijaya, Kapolres, pemerintah kabupaten Nduga, Pemerintah Jayawijaya, Dinas Sosial Provinsi Papua, Senin (29/7/2019) di Makodim Jayawijaya.Menurut dia, analisis yang disampaikan pusat krisis kesehatan masyarakat yang ada di kementerian kesehatan menyatakan bahwa data tersebut data yang bukan kejadian luar biasa.“Dari catatan yang sejak Desember 2018 hingga Juli 2019 adalah sebuah angka meninggal akibat dari sakit atau usia dan banyak faktor lain, yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai kejadian yang luar biasa oleh Kementerian Kesehatan. Namun, apabila ada informasi lebih lanjut tentang hal tersebut, kementerian kesehatan siap untuk melakukan klarifikasi lebih lanjut, dan barang tentu dengan dukungan fakta dan data yang akurat,” ujar dia.Namun versi Kemensos itu dibantah oleh Hipolitus Wangge, anggota Solidaritas Nduga. Menurutnya, data jumlah korban meninggal yang disampaikan Kemensos RI yang diperoleh dari Dinkes Pemda Nduga, memiliki sejumlah kelemahan.“Jumlah korban dicampur dengan penembakan pada bulan Juli 2018, padahal pengungsi internal dimulai sejak peristiwa penembakan karyawan Istaka Karya pada Desember 2018,” ujarnyaSelain itu, data yang disampaikan Kemensos RI ini yang tidak menyebutkan adanya korban pada bulan April, Mei, dan Juli 2019.“Jenis kematian dicampur antara penembakan oleh OPM dan oleh TNI. Padahal seharusnya dibedakan, sehingga tindak pelanggaran hukumnya bisa diidentifikasi secara jelas,” ujarnya.Selain itu, 53 korban yang disampaikan Pemerintah Indonesia, tiga di antaranya adalah warga non OAP tanpa disebutkan namanya. “Metode pengumpulan data itu tidak jelas,”

Sumber lainnya yang di rilis bbc.com di artikel “Pengungsi Nduga, Papua: ‘Berhari-hari di luar, bisa mati kelaparan di hutan menyebutkan bahwa banyak pengungsi ini meninggal dalam perjalanan pengungsian mereka.

Terlihat bahwa berita-berita mengenai pengungsi Nduga ini tidak terlalu terekspos karena minimnya data.

Salah satu kejadian yang membuat lebih miris lagi, masyarakat Nduga yang mengungsi di Wamena, menolak bantuan dari Kemensos, sampai saat ini belum ada berita jelas mengapa mereka menolak bantuan tersebut.

video mengenai penolakan bantuan dapat dilihat di video bawah ini :

Kita berharap semoga penanganan pengungsi ini bisa lebih baik, karena hal ini akan membuat masyarakat Nduga semakin terpuruk.

Semoga pemerintah lebih memperhatikan masalah pengungsian ini

Salam,

Share it

HMS FAKFAK

Your Comment