Warga Non-Mbaham Matta Pericuh di KPU Fakfak Siap-siap Tinggalkan Fakfak

Dalam tempo paling lama 60 (enam puluh) hari setelah keputusan Dewan Adat Mbaham-Matta, warga Fakfak non-Mbaham-Matta yang membuat kericuhan di lingkungan KPU Kab. Fakfak harus bersiap-siap meninggalkan Fakfak. Kericuhan terjadi pada 16 Agustus, saat unjuk rasa massa pendukung kandidat SAHABAT, calon Bupati dan Wakil Bupati Fakfak pasangan Said Hindom dan Ali Baham Temongmere.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Adat Mbaham-Matta, Sirzeth Gwas-Gwas, dengan menegaskan ulang keputusan tertulis itu. Menurut Gwas-Gwas, keputusan ini berlaku bagi pribadi, buka terhadap keluarga atau suku mereka. Dewan adat menemukan sedikitnya 30 orang provokator, pelaku, penghasut, tokoh intelektual dan pendukung atau sponsor terhadap unjuk rasa yang berbuntut penyerangan terhadap Markus Krispul, Ketua KPU Kabupaten Fakfak. Sebelumnya, orasi dan tindakan para pengunjuk rasa juga dinilai berbau pelecahan dan penghinaan terhadap Markus Krispul.

Ketua III Dewan Adat Mbaham-Matta, Yermias Tuturop, yang menangani bidang Peradilan Adat, menegaskan para pelaku tidak boleh menganggap remeh keputusan adat ini. Menurut Tuturop, terdapat 7 (tujuh) tindakan yang terjadi saat unjuk rasa itu. Ke-tujuh tindakan itu ialah pemukulan, pemukulan dengan berbagai benda, ditendang, dihujat, dicaci maki, diludah, kumpul uang dengan ejekan dan dilemparkan. Kalau ditendang itu berarti budak, kalau diludahi itu menganggap orang lain sama dengan binatang, kalau lempar uang itu menganggap orang lain itu miskin atau tidak punya apa-apa.

Sementara itu, Ketua I Dewan Adat Mbaham-Matta, Simon Br. Hindom, menekankan perlunya kandidat SAHABAT menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada keluarga Krispul dan Masyarakat Adat Mbaham-Matta. Permohonan maaf harus disampaikan secara terbuka melalui media massa.

Engelbert Homba-Homba, Sekretaris Dewan Adat Mbaham-Matta menyatakan, tuntutan adat ini penting disikapi sebagai proses penghargaan terhadap hak-hak dasar masyarakata adat. Jangankan keluarga Krispul, siapapun yang datang mengadukan persoalannya kepada Dewan Adat, walaupun itu warga bukan asli Fakfak, maka Dewan Adat berkewajiban menyelesaikan masalah yang menimpa warga yang hidup di negeri ini.

(Alex Tethool, Fakfak)

Share it

HMS FAKFAK

0 thoughts on “Warga Non-Mbaham Matta Pericuh di KPU Fakfak Siap-siap Tinggalkan Fakfak

  1. Saya mengapresiasi langkah tegas dewan adat mbaham-matta yang telah menjunjung nilai-nilai demokrasi substansial yang didasarkan pada nilai-nilai kearifan lokal, saya sebagai pengurus dewan adat fakfak dalam kesempatan ini menegaskan pula bahwa tindakan demo yang cenderung anarkies dan tendensius tersebut tlh melanggar hak-hak universal maupun hak-hak dasar, bahwa tudingan, pemukulan, caci maki maupun tindakan mengumpulkan uang utk diberikan kepada saudara krispul dlm konteks itu sangat bertendensi dan berdimensi pelecehan terhadap anak adat termasuk adat mbaham yang perlu diselesaikan secara adat dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

    saya berharap bahwa apa yang tlh dinegasikan oleh ketua Dewan Adat Fakfak dapat dilihat sebagai proses pendewasaan politik bagi kita semua, karena dengan memelihara aksi-aksi demo anarkies tsb apalagi berdasarkan kepentingan belaka (tentu kelompok ini dibayar/didukung juga utk melakukan demo tersebut), akan membawa suatu kondisi daerah yang tidak kondusif dan instabilitas.

    yang jadi pertanyaannya adalah siapa membayar siapa dan untuk disuruh membayar kepada siapa sebagai upaya pembunuhan karakter secara masif kepada ketua KPUD dan parahnya mereka berharap ada efek domino politik kepada siapa-siapa yang saat ini sebagai cabub-cawabup. model politik kuno/klasik yang masih dipertahankan. hentikan semua itu wahai saudara-saudaraku…
    tks. by ZAB (Zainal Abidin Bay)

Your Comment