Bayarrr..!!! Ini Milik Saya..!!!

Tulisan berikut ini kami kutip dari seorang dokter yang pernah bertugas di Kabupaten Fakfak,

terima kasih buat bu dokter yang sudah memberi ijin untuk mempublikasikan tulisannnya di blog kami….

Bayarrr..!!! Ini Milik Saya..!!!

“Saya tidak habis pikir, Doc.. Seperti apa pola berpikir mereka. Bagaimana bisa berkembang & maju seperti kota-kota lain di Papua bila masih saja ngotot palang ke sana palang ke mari. Padahal Fakfak ini kota tertua di Papua, Doc.. Masak sekarang kondisinya jauh tertinggal dibanding kota-kota lain yang baru. Dokter tahu Enarotali, khan.. tempat kelahiran Dokter.. Itu jauh lebih maju, sekarang.. Eh, maaf.. Dokter sudah paham palang yang saya maksudkan?”, Bapak Samad memulai sharing gelisah benaknya siang tadi di ruang Poli-ku, selepas jam praktek.

“Itu, lho Doc.. kalo si Bapak itu memandang bahwa sebuah proyek/bangunan didirikan di tanah yang diyakininya secara Adat sebagai miliknya lantaran Moyang Leluhurnya konon pernah menanam satu dua pohon Pala & pisang di situ, maka pihak manapun yang bermaksud memanfaatkan lokasi dimaksud atas nama kepentingan apa pun, bahkan demi kepentingan vital Masyarakat setempat sekalipun, wajib membayar sejumlah besaran uang sangat banyak tertentu padanya. Bila tidak sepakat, yea langsung pasang palang di semua pintu & jendela. Dari bongkah balok kayu atau apa pun.. Seperti segel begitulah, Doc..” , Beliau mencoba menjelaskan maksudnya..

“Puskesmas ini dulu juga sempat dipalang, Doc.. jamannya Dr.Martha sebagai Kepala Puskesmas. Saya sampaikan.. silakan saja.. malah kami bisa berlibur.. Andai terus ngotot, jangan salahkan Dokter & kami andai ada yang jatuh sakit keras.. tidak ada tenaga yang bisa melayani..”, lanjut Beliau.

“Oya, Doc.. kita khan tinggal di Distrik Werba yang dikenal sebagai area lumbung airnya kota Fakfak. Andai kemarau, orang Fakfak kota akan berbondong-bondong mengambil air dari sumber mata air besar di Kali Werba. Tragisnya, kita yang di Werba sendiri sering kehabisan air. Masalahnya, kami di sini khan hanya mengandalkan tandon tadah hujan. Giliran lama tidak turun hujan, habislah kita.. Dokter sudah tahu belum. Dulu sudah dibangun pipa air besar dari sumber mata air Kali Werba yang langsung dialirkan ke seluruh Distrik Werba. Masalahnya, ada pihak pemangku Adat yang merasa belum sepakat, lantas memutuskan memasang palang dengan cara frontal serta sepihak.. merusak & memutus pipa air jalur utamanya.. yang berakibat fatal. Hingga detik ini kita sama sekali tidak bisa menikmati berkah air, padahal berdomisili di daerah penghasil air utama kota Fakfak.. Tragis, yea Doc.. Repotnya lagi, soal palang memalang itu kadang kala sangat membingungkan & merepotkan. Bagaimana tidak. Ia tidak sejalan dengan kaidah Hukum yang berlaku di Indonesia. Batasannya pun simpang siur. Belum lagi, di lokasi yang sama bisa lebih dari satu pemangku Adat yang mengklaim memilikinya secara Adat..”, semakin naik suhu pembicaraannya..

Sahabat terkasih, jujur.. aku hanya bisa diam terpaku menyadari kejelasan semuanya. Hal yang sudah mulai kuduga sedari awal.. ketika suatu pagi tanpa sengaja pandangan kedua mataku terpaku pada deretan kata demi kata dalam draft “Perjanjian Tertulis” soal palang yang tertempel memudar di pintu masuk Puskesmas Distrik Werba, yang ditandatangani oleh Dr.Martha mewakili pihak Puskesmas & Pemerintah RI di satu pihak, dan cantuman nama seseorang yang lain, sebagai pihak berikutnya..

O’ow.. ternyata.

“Dokter.. bagaimana bisa seseorang begitu yakin diri mengklaim suatu area lahan sebagai miliknya pribadi. Siapa yang duluan ada. Tanah..ataukah Manusia? Manusia meninggal akan dikubur di mana andai tanah ada setelah Manusia..”, sang Beliau mulai mengutarakan analogi cara pandang pribadinya terkait soal klaim Hak Milik mutlak atas tanah.

Sahabatku terkasih, ada mutiara pemahaman meluas bijak yang kudapatkan.. dari perbincangan ringanku dengan Bapak Samad Rengen siang hari tadi. Beliau, seorang Putera asli Fakfak.. yang telah hampir 30 tahun mengabdi di bidang Kesehatan, di tanah tumpah darahnya.. Fakfak. Terimakasih, Bapak..

Terimakasih pula, Sahabatku..

Sumber : Kompasiana

Share it

HMS FAKFAK

Your Comment