Peran Komunitas Sebagai Kunci Penanggulangan HIV-AIDS

Fakfak_HMS_ICAP_IXJakarta (21 Juli 2009) – Dalam International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (9th ICAAP) yang akan berlangsung pada 9–13 Agustus 2009 di Bali, Indonesia, delapan komunitas akan hadir. Kedelapan komunitas ini adalah (1) orang yang hidup dengan HIV (ODHIV), (2) pengguna Napza suntik (penasun);  (3) Komunitas Antar Iman; (4) laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) dan waria; (5) penduduk migran,   (6)pekerja seks;  (7) perempuan, termasuk lesbian;  dan (8) remaja.

Pelibatan berbagai komunitas merupakan kunci dalam penanggulangan penyebaran HIV. Di berbagai tempat telah terbukti bahwa masyarakat sipil, termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan beragam latar belakangnya,  dapat membantu pemerintah mewujudkan Akses Universal, yang menjadi bagian penting dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan PBB.

Salah satu tujuan (goals) dalam MDGs adalah menghentikan epidemi HIV pada 2015. Ini berarti semua negara  disyaratkan agar bisa menghentikan dan memutar-balikkan penyebaran HIV pada 2015, termasuk di dalamnya target mencapai Akses Universal pada 2010. Akses Universal adalah sebuah  kondisi bahwa semua orang yang memerlukan pengobatan HIV dapat memperolehnya. Ini berarti ada urgensi bagi tiap negara untuk memperkuat sistem layanan kesehatan dan memberikan layanan yang lebih efektif.

Sebelum 9th ICAAP berlangsung, sebuah Forum Komunitas (Community Forum) akan diselenggarakan  pada 7–8 Agustus 2009.  Forum ini akan merangkul kedelapan komunitas ini agar dapat bertukar pikiran mengenai sejumlah isu penting dalam komunitas itu. Pembukaan Forum Komunitas akan dilakukan di Inna Grand Beach Hotel, Sanur, sedangkan penutupan Forum Komunitas ini akan dilakukan di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, pada 9 Agustus pagi sebelum 9th ICAAP dibuka pada malam harinya.

Wakil Ketua II Panitia Penyelenggara, Prof. Dewa N. Wirawan, MD, MPH. mengatakan, “Pentingnya keterlibatan komunitas dalam memerangi HIV dan AIDS akan sangat terlihat dalam Forum Komunitas. Peran komunitas dalam  membentuk perubahan perilaku positif yang berkelanjutan tidak saja penting, tetapi juga memberikan konteks untuk mendiskusikan berbagai isu. Pengalaman khusus tiap komunitas akan mempercepat penanggulangan yang efektif dan selanjutnya membuat peran komunitas menjadi bagian integral dalam pemrograman di masa mendatang.”

Lebih jauh, Prof. Dewa N. Wirawan, MD, MPH  juga menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat sipil merupakan aspek penting keberhasilan penanggulangan AIDS. “Lembaga yang peduli pada Orang Dengan HIV (ODHIV) dan populasi kunci perlu terlibat aktif pada semua tahap penanggulangan AIDS. Melalui berbagai upaya kolektif, kita dapat bekerjasama menyempurnakan strategi kita membantu mereka yang rentan ataupun yang sudah terdampak oleh epidemi HIV” ujarnya.

Forum Komunitas ini menyadari bahwa bila cakupan program (terapi ARV, informasi infeksi menular seksual, dan dukungan pekerjaan) bagi pengguna napza suntik, pekerja seks dan pelanggannya, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki dan pasangannya bisa mencapai 80%, maka ini akan membantu menghentikan dan memutarbalikan epidemi HIV, seperti yang direkomendasikan  Independent Commission on  AIDS in Asia.

Melalui tema Memberdayakan Manusia, Memperkuat Jejaring,  9th ICAAP dipandang  sebagai upaya mendukung terciptanya komunitas dinamis dengan manusia-manusia berdaya di seluruh kawasan Asia dan Pasifik.  Oleh karena itu penanggulangan pandemi lintas batas di negara-negara kawasan ini perlu dilakukan dengan lebih holistik dan efektif, apalagi mengingat laju epidemi HIV di Asia Pasifik kian mengkhawatirkan.  Independent Commision on AIDS in Asia (2008) mencatat jumlah ODHIV di Asia pada 2007 diperkirakan mencapai 5 juta orang, dengan jumlah kasus infeksi baru sebanyak 380.000,  yang hampir sebanding dengan jumlah orang yang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan AIDS, yaitu 380.000. Di kawasan Pasifik (Oceania) diperkirakan terdapat 740.000 ODHA, dan 13.000 orang di antaranya merupakan infeksi baru.

Kelima juta Orang Dengan HIV (ODHIV) di Asia dan Pasifik ini perlu dijamin hak-haknya agar mereka memperoleh akses universal  dan perawatan berkelanjutan. Komunitas pengguna napza suntik juga perlu dijamin hak asasinya sebagai manusia dalam meningkatkan dan melindungi kesehatannya .

Komunitas LSL dan waria perlu memperoleh akses terhadap pencegahan, perawatan, pengobatan, dan dukungan. Selain itu, marginalisasi dan kriminalisasi yang menghalangi akses tersebut harus dihilangkan. Upaya yang sama perlu dilakukan dalam melindungi hak-hak para pekerja seks. Selama ini program HIV hanya memfokuskan pada penggunaan kondom untuk pencegahan HIV, tetapi belum menyentuh persoalan mendasar menyangkut hak mereka yang masih menghadapi diskriminasi dan kriminalisasi.

Komunitas perempuan empat kali lebih rentan terhadap infeksi HIV dibandingkan laki-laki; bahkan, perempuan di bawah usia 20 tahun bisa sampai sepuluh kali lebih rentan.  Perempuan juga lebih sering mendapatkan diskriminasi berkaitan dengan AIDS dibandingkan laki-laki, sehingga pemberdayaan komunitas ini perlu dilakukan. Perempuan seringkali menanggung bagian terberat epidemi HIV karena ditinggalkan suami. Pengarusutamaan isu gender dalam setiap level kebijakan dan program  perlu dilakukan, guna menjamin, memenuhi dan melindungi hak perempuan secara holistik.

Komunitas remaja juga perlu memperoleh akses lebih luas atas informasi tentang seksualitas. Seperempat populasi dunia atau sekitar  1,7 miliar penduduk dunia terdiri dari kaum remaja dan sekitar 5,4 juta di antara mereka terinfeksi HIV.  Dapat dikatakan pula, 40 % kasus baru HIV terjadi pada remaja. Data UNFPA pada 2007 menyebutkan bahwa  terdapat 1,28 juta remaja yang hidup dengan HIV dan AIDS di Asia Pasifik. Angka yang begitu tinggi, mengingat masa depan  Asia Pasifik berada di tangan mereka.

Komunitas lainnya yaitu Forum Antar Iman  (interfaith forum) juga perlu dilibatkan agar memberikan perhatian pada kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan kaum muda serta mereka yang memiliki risiko tinggi seperti pekerja seks dan pengguna napza suntik. Dibutuhkan pendekatan hak asasi manusia dalam menyampaikan pesan tentang stigma dan diskriminasi yang masih terus dihadapi banyak komunitas. Respon para pemuka agama terhadap stigma dan diskriminasi akan sangat berpengaruh terhadap cara masyarakat memperlakukan Orang Dengan HIV. Kasih sayang, pengertian dan penyediaan akses pencegahan, pengobatan dan perawatan merupakan hal mendasar dalam membantu individu sehingga cita-cita MDGs pada 2015 dapat tercapai.

Forum Komunitas ini berawal pada ICAAP ketiga di Chiang Mai, Thailand, 1995.  Pada ICAAP berikutnya di Melbourne Australia (2001) dan Kobe, Jepang (2005), Forum Komunitas semakin menguat dan akhirnya dikelola oleh Koalisi Jaringan Regional Asia Pasifik (dikenal sebagai Koalisi 7 Sisters). *************

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Ika Nazaruddin

Pacto Convex

Ph 62-21 571-9973

Ika_nazar@cbn.net.id

Alautiah Miftahayati

Community Forum Officer

Ph. 62-21-39838845/46

Alautiah.miftahayati@icaap9.org

Ristya Paramita

Public Information Officer

Ph. 62-21-39838845/46

ristya.paramita@icaap9.org

Share it

HMS FAKFAK

Your Comment